Sunday, July 23, 2006

Diva & Maestro Indonesia

Addie MS, Erwin Gutawa, Dodo dan Andy Riyanto


Masih inget ketiga sampul album itu kan?
Hanya 3 album itu saja yang aku ikutin dari group Karimata ini. Album selebihnya mungkin tidak lagi sesuai dengan stream-ku.
Karimata memang bukan seperti group musik kebanyakan yang mempunyai musisi dan vokalis sekaligus dalam satu group. Karimata hanya pure group musik yang terdiri dari 5 musisi minus vokalis. Walaupun Chandra Darusman sendiri sebenarnya bisa bernyanyi. Pasti inget dong lagu “Kekaguman” ditaun 80-an yang nge-top banget dibawain sama Chandra Darusman?Kalo ga inget ada lagu recycle-nya kok. Lagu ini di nyanyiin ulang Shelomita sekitar taun 2000 lalu.
Walaupun dialbum ke-3 akhirnya Chandra, Denny dan Aldy (drummer baru) menyumbang suara merdu mereka dilagu “Melangkah”.

Jadi jelas banget kekuatan dan misi dari group musik ini adalah bermain musik (secara instrumental) bukan seperti group musik kebanyakan yang lebih menonjolkan vokalisnya dan bahkan masyarakat luas lebih mengenal nama vokalis dari salah satu group band yang mereka suka tanpa tau siapa nama nama pemain musiknya.
Yah.. mungkin itu lah sialnya jadi member of the band, kadang kalah ngetop sama vokalis. He..he.he..
Tapi Tidak dengan Erwin Gutawa. Biarpun Erwin Gutawa bukan vokalis tapi nama beliau jadi yang paling “bersinar” dari group band ini.
Konser Diva mana sih yang tidak melibatkan nama Erwin Gutawa? Kalau Vina Panduwinata tidak menggandeng Erwin Gutawa di konser 25 tahunnya nanti mungkin karena dalam perjalanan musik Vina memang tidak banyak melibatkan Erwin Gutawa.
Vina lebih akrab dengan sang arranger kesayangannya Dodo dan Addie MS yang teruuuuus setia dari hampir semua albumnya sampe sekarang ini.

Selain Chandra Darusman (Keyboard) dan Erwin Gutawa (Bass) ada juga , Denny TR (gitar), Aminoto Kosin (piano) dan Uce Haryono (drum, lalu digantikan oleh Aldy kemudian Budhy Haryono) yang ngelengkapi group ini, sayangnya group ini harus bubar pada 1994 an.
Ada nana nama yang pernah menjadi vokalis tamu group musik ini antara lain: Lydia dan Dian Pramana Poetra (“Rintangan”) yang kemudian lagu ini di remake ulang oleh Cindy dan Glenn dialbum debut Cindy. (Cindy juga pernah jadi vokalis tamu dialbum The Best-nya The Groove setelah Rika Roeslan Keluar).
Ada juga Ramona Purba yang pernah 2 kali jadi vokalis tamu Karimata didua album yang berbeda begitu juga Lydia yang juga 2 kali menjadi vokalis tamu, kemudian Neno Warisman, Katara Singers, La Storia, Harvey Malaiholo, duet Ricky Basuki dan January Christy. Dan yang terakhir adalah “Ruth Sahanaya” (bintang tamu yang paling istimewa) dan sepertinya Uthe adalah vokalis “kesayangan” group ini. Masa Kecil kecil adalah Judul lagunya dan terdapat dialbum kedua Karimata : “Lima”.
Kenapa saya sebut Uthe itu “kesayangan”?
He..he..he.. Ini cuman pradugaku aja… Jangan ada yang kesinggung yah…

Masih inget album debut (perdana) Uthe yang berjudul Seputih Kasih? Semua personil Karimata (“Lima”) adalah musisi dan juga pencipta lagu dialbum Uthe ini, dibantu juga musisi dan pencipta lagu ternama lainnya seperti (ehem… ) TITI DJ maaf jangan pada bosen dengan nama ini. Pasti nama ini selalu muncul disetiap tulisan saya. Maklum dia memang my Diva… Hehehe..
Munkin ini adalah lagu ciptaan Titi yang pertama dan ini adalah kerjasama Titi yang pertama juga dengan Erwin Gutawa. Jadi kira kira sudah sekitar 19 tahunan yang lalu kerjasama mereka ini. Selain Titi ada juga Addie MS, Indra Lesmana, Dian Pramana Poetra, Oddi Agam dan lainnya.
Semenjak album debut Uthe di Aquarius kemudian Musica (hanya satu album) hingga album produksi Sony & BMG dan yang terakhir produksi bersama Warner ,Aquarius dan Sony untuk konser 3 Diva, Erwin Gutawa dan the rest of Karimata tetap setia mendampingi Uthe. Nah.. Gimana gak jadi "kesayangan"...?
Jarang sekali penyanyi yang punya musisi pendamping tetap dari sejak awal dia berkarir. Hanya Uthe dan Vina saja yang mungkin punya kehebatan itu.
25 tahun bukan waktu yang singkat untuk suatu perjalanan musik , Sepanjang 25 tahun itu Vina tetap setia didampingi Dodo dan Addie MS. Jadi tidaklah heran kalo untuk konser kali ini Vina memilih Addie dan Dodo sebagai arranger untuk konser 25 tahunnya nanti. Begitu juga Uthe yang hampir 20 tahun bersama Erwin Gutawa selalu saling melibatkan satu sama lain. Terbukti di Album Erwin Tribute To Keos bersaudara Uthe juga tetap dilibatkan.

Ngomong ngomong soal si Maestro Addie MS… Apa nanti di Konser 25 tahun Vina ada Oddie Agam juga nggak ya? Mengingat di iklan radio tidak menyebutkan Twilite Orchestra yang Oddie Agam dan Addie MS dirikan. Selain itu Vina juga indentik dengan lagu lagu Oddie Agam-nya.
Lain dengan Titi DJ… Titi terkenal dengan inovasi dan gayanya yang selalu “update” dan cendrung melawan arus. Begitu juga dengan musiknya, sudah begitu banyak sekali Titi mengandeng musisi papan atas Indonesia. Mulai Dari Indra & Jack Lesmana, Dodo Zakaria sampe Maestro muda Andy Riyanto (Magenta Orchestra), Dian Pramana Poetra dan lainnya, akhirnya untuk album terakhirnya ini,Titi kembali menggandeng Erwin setelah 19 taun sejak kerjasama pertama mereka, kali ini selain sebagai arranger, Erwin juga merangkap sebagai produser album "Melayani Hatimu" milik Titi ini.
Di Konser 3 Diva pun Titi menyanyikan lagu ciptaan mereka berdua : “Kau Selalu Ada”.
Sebenernya terima kasih banyak Untuk KD production yang sudah membuat tontonan spekta ini, walaupun saya berharap bukan KD yang menjadi salah satu dari 3 DIVA itu.
KD memang sangat talented, powerful dan popular dan sangat pantas dengan julukan Diva-nya itu.
Tapi KD tidak sekelas dengan Titi dan Uthe. Stream musik KD jauh berbeda dengan mereka. Musisi yang biasa ada dialbum album KD pun tidak sekelas dengan musisi musisi yang biasa membuat musik untuk Uthe dan Titi.
KD boleh saja menggandeng Erwin disetiap Konsernya. Tapi itu hanyalah taktik KD saja untuk menaikan pamor musiknya yang kurang berkelas itu supaya bisa sejajar dengan Vina, Uthe dan Titi.Baru dialbum terakhirnya (Cahaya) kalo ga salah dia bekerja sama dengan Erwin Gutawa. Wah terobsesi bangedz pingin jadi one of the Erwin gutawa Girls nih...?

Kenapa KD tidak memakai musisi asli dari jenis musik nya sendiri yah?? Seperti yang Vina Uthe dan Titi lakukan?? Kenapa harus melenceng mencari sang Maestro?? Mau tidak mau itu berarti adalah pengakuan dari KD sendiri kalo musik dia belum pantas disejajarkan dengan Titi dan Uthe Makanya dia menggandeng sang Maestro untuk semua konsernya.
What a pity…KD…
Ada satu lagu yang harus di “Up grade” secara maksimal oleh Erwin supaya menghilangkan kesan dangdut-nya. Erwin memasukan unsur unsur India disitu yang memang masih satu stream.
Mungkin KD lebih cocok dengan “Soneta Orchestra “ milik Bang Rhoma Irama dari pada harus memaksakan Erwin Gutawa untuk memainkan lagu “Penasaran” karya Bang Rhoma di Konser itu…
Just Be Yourself KD…
Kasian Titi, Uthe dan bang Erwin yang kena batunya memainkan musik yang bukan stream mereka.

Saturday, July 22, 2006

Single VS Album

Ini adalah kedua kalinya Yovie ngeluarin album kompilasi sejenis gini. Entah apa maksudnya, aku sendiri kurang jelas maksudnya. Kalo tujuannya adalah untuk membuat kompilasi semua hits dia, tentu tidak akan cukup hanya memasukan 12 hits dalam album seperti ini mengingat lagu lagu dia selama 21 tahun perjalanan kariernya yang pernah menjadi jadi hits itu bukan lagi hitungan jari tapi sudah puluhan lagu. Mulai dari yang dinyanyikan secara solo oleh penyanyi2 Top Indonesia ataupun secara group seperti Elfa`s Singer, Bening, Warna,The Groove, Lingua, Nuno, Kahitna dan banyak lagi. Tapi kenapa cuman 12 yah? Kenapa dia tidak membuat Double CD atau untuk pertama kalinya aja seorang Musisi Indonesia bisa buat album kompilasi langsung 4 album sekaligus biar masuk MURI sekalian. Dan yang paling menyebalkan adalah hapir semua lagu di album kompilasi itu adalah koleksi lagu yang kebetulan aku sudah punya juga. Jadi buat apa beli album itu? Memang ada lagu baru yang jadi “pemancing” orang untuk beli album ini, Mungkin ini strategi bisnis industri musik di Indonesia yang menurut aku selalu merugikan konsumennya. Biasanya sebuah label rekaman yang akan memperkenalkan salah satu artis barunya dia tidak akan langsung membuatkan sebuah album untuk artis baru tersebut, tapi biasanya dibuat satu single baru saja untuk dinyanyikan artis tersebut kemudian sisanya adalah kumpulan hits2 dari label tersebut. Tujuannya selain memperkenalkan artis tersebut mungkin juga untuk menghindari resiko kerugian yang besar kalo tidak laku. Mungkin mengiat begitu besarnya budget yang harus dikeluarkan sebuah label untuk membuat album baru yang belum tentu laku. Banyak sekali contoh pembuatan single seperti ini. Misalnya saja Sony Music Indonesia yang membuat satu single untuk Ello “ Silang Hati” di albumnya Audy yang kebetulan satu lebel. Kadang lagu single tidak akan muncul lagi di album artis tersebut jika dia sudah membuat satu album utuh. Mungkin juga untuk mendongkrak penjualan kedua album tersebut. Karna biasanya penggemar fanatik kan selalu mengejar apapun yang si artis jual. Contoh lain adalah Audy. Ada 2 single terdahulu-nya sebelum dia ngetop dan punya album sendiri. Yang pertama adalah “Satu Jam Saja” dan yang kedua adalah “Mendua” yang disisipkan di album pertama Yovie & The Nuno, entah karna alasan apa lagu “Mendua” muncul juga dialbum Audi yang ke-1 tapi lagu “Satu Jam Saja” tidak diikut sertakan.
Nah kebetulan sekali di Album Yovie yang pertama yang di beri judul “Karya Apik” (sayang saya hanya punya format kasetnya saja karna waktu itu memang belum ada format CD nya) di album itu ada Dea Mirela. Disini Musica memberi kesempatan dia untuk menyanyikan satu buah single dg judul “Menanti” yang setelah lagu itu popular barulah album Dea Mirela keluar tanpa ada lagu “Menanti” disitu.
Memang agak berbeda sedikit, dialbum kedua Yovie ini ada sekitar 4 lagu baru (sebenernya 3) karna salah satunya adalah lagu yang dinyanyikan ulang. Awalnya album ini diberi judul “A Touch of Yovie” tapi karna mungkin takut disebut jadi Copycat dari albumnya David Foster akhirnya diganti menjadi “A Portrait of Yovie”,hmmm …apa bedanya yah??
Walaupun ada beberapa lagu barunya, tapi tetap saja sisanya adalah lagu2 yang mubazir karna kita harus dapet lagu lagu yang sudah kita koleksi sebelumnya. Belum lagi harganya yang menurut aku sangat mahal.!!
Sebenernya hanya satu lagu yang aku ingin punya dari album ini, yaitu lagu “Tak Mungkin Bersatu” , lagu lama Hedi Yunus yang dinyanyikan kembali oleh Penyanyi kesukaanku Pinkan Mambo.

Menyebalkan bukan?? Hanya ingin denger satu lagu itu saja saya harus membayar Rp.60ribu!! Sebeeeeeeeeeeeeeel….
Belum lagi isi lagu di album ini juga masih saja ada lagu yang sama dengan lagu dialbum yobie pertama. Yaitu lagu Lingua!! Mau MARAH ga sih?
Memang kali ini agak sedikit berbeda tapi tetep menurut aku itu ga` penting banget. Di album ini (Ada 2 CD) dia masukin wawancara dengan sebagian artis yang menyanyikan lagu dia di album kompilasi ini dalam format VCD. Tapi tetep aja GA` PENTING!
Berbeda dengan Dodo Zakaria. Dia adalah Musisi yang paling aku suka sampe hari ini. Dia jauh lebih Berani dan Kreatif lagi.Kira2 dipertengahan tahun 80`an Dia membuat satu album yang isinya adalah kumpulan karya dia yang juga aransemennya dia buat sendiri dan dinyayikan oleh artis Top Indonesia mulai dari jenis musik Pop Sampe Rock ada dialbum ini, seperti Vina, Utha, Nicky Astria, Achmad Albar dll.
Kebayang mahalnya pembuatan album ini mengingat semua artis top ada disini padahal lagu dalam album ini adalah baru!! Tapi ini lah yang bikin aku suka sekali album yang diberi judul "Dodo" ini. Ada ga yah Musisi kita yang mau bikin album kayak gini lagi?
Lalu Kenapa kita tidak meniru strategi bisnis musik di luar negri, yang menurut aku sangat bagus dan tidak hanya menguntungkan si artis tapi producer dan pencipta lagunya tapi konsumen juga bisa pilih2 lagu yang dia mau saja yang dia beli.
Biasanya kalo disana penjualan lagu lagu itu bisa berbentuk single dan album. Nah ini yang seru…
Kita diberi pilihan. Bisa membeli lagu yang kita mau saja. Dan harganya pun jauh lebih murah beli lagu satuan(single) dibanding membeli satu album. Dan biasanya single itu muncul lebih dulu dari albumnya.Kemasannya juga bagus karna lebih tipis. Biasanya dalam satu album itu ada beberapa pencipta lagu dan ada juga beberapa produser yang berbeda dari tiap lagu di album tersebut. Berbeda dg di Indonesia, umumnya hanya 1 produser yang memproduseri satu album penuh.
Strategi seperti ini menurut aku sangat merangsang daya kreatifitas seorang produser dalam menjual sebuah lagu yang dia produseri-nya sendirian. Bayangin aja satu lagu itu bisa dibuat beberapa versi, bahkan ada yang berbeda bahasa dan tidak jarang pula ditambah lagi dengan sentuhan DJ professional yang bikin lagu itu unik yang tidak akan ada dijual di dalam original album artis tersebut. Setiap Negara isi dari CD single itu bisa berbeda2 dengan cover CD yang berbeda2 pula tergantung keinginan dan kreatifitas produser ditiap2 negara tsb.Tujuannya adalah untuk mendongkrak penjualan lagu tersebut yang akhirnya akan membawa keuntungan buat si produser. Tetapi berbeda untuk penjualan album. Semua Cover Album diseluruh dunia dan isi dalam album itu harus sama disetiap Negara.
Hmmmm… Andai saja lagu lagu di sini dijual dalam bentuk single…
Pasti akan lebih seru hunting lagu-nya. Dan ga akan dirugiin terus…
Iya gak?? Iya aja deh….

Local Label



Chrisye_1







Ada yang inget sama foto2 diatas? Coba diklik aja fotonya biar lebih jelas...

Hahaha….Bener banget! Itu adalah album2 Chrisye jaman dulu mulai dari album pertama dia ampe ga tau lagi sekarang dah berapa puluh album dia. Untuk kalian yang kelahiran taun 80an mungkin ga tau album2 itu. Tapi kalo ortu kalian masih koleksi mungkin tau juga sih. Hehehe… Sebanernya ini cuman sebagian dari album chrisye yang di jual kembali dalam bentuk CD. Jadi album Chirsye yang taun `90 keatas kan sudah banyak yang berbentuk CD jadi album2 ini bisa bikin fans nya Chrisye loncat2 kegirangan termasuk gua, Karna format nya udah CD dan kualitas suaranya yang sangat bagus, padahal gua bukan penggemar Chrisye tapi lagu dia itu termasuk yang paling setia nemenin aku mulai dari TK ampe sekarang! Amazing… tiap taun ada aja lagu baru dia yang bisa aku nikmatin tanpa absent. Jarang ada penyanyi se-eksis dia mulai dari mencipta lagu untuk sendiri sampe dinyanyiin oleh penyanyi laen. Mungkin karna kakakku adalah pendengar setia lagu2 Chrisye dan akhirnya aku jadi ikutan hapal lagu2 dia. Buat aku re-sale album2 lama dia adalah suatu penghargaan yang istimewa banget dari sebuah Recording Label. Kayaknya belum ada satu pun label lokal yang bikin kayak gini seperti Musica. Dia adalah salah satu penyanyi yang pantes banget dikasih penghargaan seperti ini karna mau album manapun kayaknya tetep aja albumnya bakal dicari orang karna lagunya yang abadi. Memang sih masih banyak lagi lagu2 Chrisye yang bukan berbentuk CD yang masih belum bisa di re-sale kayak gini. Mungkin karna lagu itu bukan termasuk dialbum dia (singel), Contohnya lagu Merpati Putih dan Lilin Lilin Kecil itu adalah lagu taun 70-an yang dibuat Prambors di kumpulan lagu2 LCLR. Tapi kalo kalian rajin cari CD, lagu2 itu ada di kompilasi the best LCLR keluaran Aquarius dan Prambors dan kalian pasti nemuin lagu itu dalam bentuk CD-nya juga. Thanks buat Aquarius Musikindo. Yang meskipun bukan pure label lokal tapi masih mau bikin compilasi ini. Aku bersyukur dapet CD itu. Karna termasuk langka juga! Kalo lagu yang dibikin aransemen ulang (remake) memang ada judul2 lagu itu, tapi aku kurang suka karna estetika lagunya udah ga original dan ga enak aja dengernya. Sebenernya masih banyak Singel2 Chrisye yang berceceran di mana2 (berceceran?? kok kayak sperm yah?). Ada yang di album-nya Guruh Sukarno Putra, Suara Persaudaraan dll. Aku nyesel banget kalo inget koleksi kaset2 lama aku yang sempet aku buang karna kebanyakan dan aku kurang bisa ngerawatnya karna jamur atau karna dipinjem dan ga dibalikin. Sediiiiih banget karna sekarang aku harus setengah mati muter2 cari lagu2 itu karna kangen aja pengen denger lagi lagu itu. Sering juga aku ke pasar2 loak buat sekedar iseng cari lagi lagu2 lama yang aku mau denger. Mungkin ada yang bisa bantu cariin album Guruh yang Cinta Indonesia? atau album Suara Persaudaraan? Mudah mudahan bukan hanya Musica yang bisa bikin yang kayak gini. Aku juga nunggu label lokal dan label laennya yang nganggep artisnya adalah aset mereka yang berharga banget. Aku sangat Suka banget Jackson Record! Kebanyakan kaset2ku jaman dulu adalah keluaran Jackson Record. Mulai dari Vina Panduwinata, Vonnie Sumlang, Oddie Agam, Dian Pramana Poetra, Indra Lesmana, Titi Dwi Jayati, Utha Likumahua, Dodo Zakaria dll. Juga Buat Bulletin Indonesia mudah2an mau keluarin lagi album ke-1 kraKatau ampe terakhirnya dan album Trie Utami. Trus buat Team Record bisa nge-resale album ELFA yang banyak banget itu! Mudah-mudahan.... Aku juga harus berterima kasih buat Pro-Sound yang udah bikin The Ultimate Colection dari Titi DJ even itu lagunya kurang lengkap, mudah2an ada The Ultimate Colection yang kedua, karna kamu juga udah bikin album Terbaik I dan Album Terbaik II buat Dian Pramana Poetra jadi aku berharap ada Ultimate II. Bikin Juga Harvey, dong…

Friday, July 21, 2006

Izinkan Aku Bertutur

“Izinkan Aku Bertutur”

Begitulah judul salah satu buku karya beliau…


Memang dunia tarik suara tidak ditinggalkannya, mungkin perubahan alur musik yang membuatnya seperti hilang dari industri musik negeri ini.
Tapi “kemunculannya” kembali dengan segala perubahannya drastisnya tidak mengurangi kecintaan saya terhadap sosok wanita cerdas ini, justru kekaguman yang amat sangat yang pasti akan tersirat dari setiap siapa saja yang melihat wanita ini sekarang, termasuk saya.
Setelah pernah menyandang gelar seorang penyanyi papan atas diawal 80-an, kemudian beberapakali pernah mendapatkan penghargaan berkat kekuatan acting-nya yang dahsyat, lalu juga dia juga terbilang produktif untuk menulis buku , puisi dan mencipta lagu , juga aktifis dari sebuah partai politik, aktif didunia pendidikan terutama pendidikan untuk anak anak Indonesia, pengajar dibeberapa yayasan dan perguruan tinggi, menjadi “keynote” pada seminar seminar di kota kota besar di Indonesia, pemandu acara keagamaan di beberapa stasiun TV swasta dan TVRI, dan bukan tidak mungkin sebentar lagi orang akan akrab memanggilnya dengan sebutan ibu “Ustadzah.”

Sudah tergambar siapa kah sosok wanita yang saya uraikan diatas?

Kalo belum mungkin yang ini akan lebih membantu.


Ternyata sangat luar biasa perjalanan karir wanita cerdas bernama lengkap “Titi Widoretno Warisman” ini.
Entah berapa banyak lagi kabisa dari seorang ibu dengan 3 orang anak ini yang belum anda dan saya ketahui lagi.
Tapi siapa sangka wanita yang sekarang menjadi seorang Ustadzah ini adalah seorang Mualaf?
Konon dia juga adalah penasehat spiritual dari Dian Sastro, yang berkat jasa beliau juga Dian menjadi seorang mualaf yang lebih bisa mendalami Islam berkat puisi puisi yang ibu ustadzah tulis.
Hmmm… sudah pada tau dong siapa ibu ustadzah yang saya maksud itu??
Benar sekali… Tidak lain dan tidak bukan dia adalah “Neno Warisman”.



Tidak banyak yang saya ketahui tentang perjalanan karir beliau, tapi suara merdu dan musik beliau di taun 80-an dulu masih selalu saya putar.
Lengkingan suaranya yang khas, mungkin masih akan bisa sesekali kita nikmati lagi karena beliau masih juga menyempatkan untuk bernyanyi walaupun dijalur musik yang berbeda, walaupun gaya “centil”nya, kelincahannya dan “kegenitan” beliau dalam meng-ekspresikan lagu lagu “Jadoel “ (Jaman doeloe)-nya mungkin sudah tidak akan bisa kita saksikan lagi.

Melihat dari sejarah bermusiknya, beliau adalah salah satu penyanyi yang selalu beruntung dalam mendapatkan musisi pendukung disetiap albumnya.
Mungkin yang paling berjasa dalam karirnya adalah (lagi lagi) bang “Erwin Gutawa”
Entah kenapa saya sering dan semangat sekali kalo menulis tentang si abang ini yah? Mungkin karena semua lagu lagu, penyanyi dan musik kegemaran saya adalah memang kebanyakan musiknya digarap oleh bang Erwin dan salah satu single terbaik dari mba Neno bersama bang Erwin adalah : “ Terjadi Lagi” yang merupakan single ciptaan bang Erwin bersama groupnya “Karimata”.
Selain itu ada juga James F. Sundah, Guruh Soekarno Putra, Dwiki Darmawan, Aminoto Kosin, Chandra Darusman, Dodo Zakaria, Billy J.B., Eramono, Fariz RM, Adjie Soetama, Dorie Kalmas juga pernah menjadi pencipta lagu dan pengiring musiknya. Jadi tergambar sudah betapa “spekta” kualitas musikal dari seorang Neno Warisman kala itu dan masih sangat sulit dicari tandingannya, mungkin selain Neno kita juga tau bahwa January Christy, Atiek CB dan Ruth Sahanya adalah juga anak emas dari bang Erwin walaupun yang paling terlihat setia bersama bang Erwin hanyalah Uthe.
Saya tidak tau persis berapa jumlah album milik Neno ini, mengingat banyaknya perubahan musik beliau setelah bang Erwin tidak lagi bersama Neno sehingga sebagian musiknya kadang ada yang kurang begitu saya minati dan akhirnya kadang menjadi ‘missing link’ dari pengetahuan musik saya mengenai perkembangan musik mba Neno kala itu.


Beralih ke penampilan mba Neno…

Apa yang istimewa dari penampilan Mba Neno pada taun 80-an?
Kalian bisa membandingkan beliau pada jaman itu dengan Agnes Monica dimasa sekarang!

Mengapa Agnes Monica?

He..he..he.. Kalo melihat usia nya pada saat itu dan kemampuan berakting dan menyanyi yang menonjol mungkin kita akan teringat Agnes pada masa ini. Walaupun jalur musik yang Agnes punya masih belum bisa disebut musik yang mapan. Perjalanan musik Agnes masih bisa dibilang hanyalah musik “transisi” yang masih mencari jati diri untuk bermusiknya atau boleh dibilang musik Agnes adalah musik “high school” karena nyata nyata konsumen terbesar dari musik Agnes rata rata adalah anak anak SMP dan SMU saja. Lain halnya dengan Neno yang sejak awal karir sudah mempunyai kematangan dan jati diri dalam hal bermusiknya. Hal lain yang mengingat Neno dengan Agnes adalah gaya rambutnya dan accecoris rada rada mirip walaupun Neno tidak terlalu Nge-punk.
He..he..he.. tapi sekali lagi maaf ini hanya sebagai perbandingan saya saja. Semoga tidak ada yang tersinggung… Maaaaaf….



Berikut saya sisipkan beberapa penampilan Neno pada cover album album beliau pada sekitar tahun 80-an.

Semoga ada manfaatnya dan bisa menjadi nostalgia buat mereka yang juga menyukai suara dan musik Neno “tempo doeloe” dan kalian bisa juga melihat sebagian List album dan photomorphosis beliau dari sebagian album albumnya.
Album
1. Asmaraku
2. Matahariku
Produksi 1982
3. Kulihat Cinta Dimatanya OST Cinta Dibalik Noda
Produksi DS Record 1986
4. Katakan Cinta Padaku
Produksi DS Record 1987
5. Bersama Berdua Selamanya
Produksi 1988
6. Sebuah Obsesi
Produksi Grammy Record 1989
Single
7. Festival Lagu Populer Indonesia 1986
Produksi Asiri & Billboard 1986
Judul : Getar Asmara
8. Album Fariz RM : “Do Not Erase”
Judul : Nada Kasih
Produksi : Grammy Record 1987
9. Adjie Soetama & Friends
Produksi : Granada Record
Judul : Bye Bye Cherio
10. Biar Saja
11. Album : “Eramono”
Produksi : TEAM Record 1987
Judul : Biar Dia Berlalu


Ada satu single mba Neno yang menurut aku ini juga adalah single terbaik beliau setelah tidak lagi bersama bang Erwin.
Single tersebut terdapat dialbum debut milik Eramono dan dinyanyikan secara duet dan diberi judul : “ Biar Dia Berlalu”. Album ini adalah termasuk album favorit saya, walaupun ada beberapa album Eramono lainnya tetapi hanya album debut ini saja yang saya suka.
Di album ini selain Neno Warisman, Eramono pun mengajak Andi Meriem Mattalatta untuk berduet di single “Kenangan Asmara”.
Yang luar biasa dari album keluaran taun 1987 ini adalah meskipun Eramono adalah pendatang baru dan ini adalah album debut-nya tetapi hampir semua lagu di album ini pernah menjadi “Hits”.
Ada dua lagu yang punya nuansa berbeda dari lagu lainnya dialbum Eramono ini, kedua lagu tersebut menjadi terasa lebih fussion dengan sentuhan vokal jazz-nya “Shanti Faraquela”, tapi entah kenapa tidak ada kelanjutan karir musik dari Shati ini padahal kualitas suara dia mirip dengan Kemala Ayu, Syaharani dan Emil S. Praja.
Mungkin Eramono membawa Shanti dialbum ini karena corak suara Shanti ini mengingatkan mantan vokalis “Spirit” band, Kemala Ayu yang juga adalah Group Band yang dibentuk oleh Eramono.



Untuk Andi Meriem sendiri sebenarnya belum terlalu akrab dengan jalur musik seperti ini. Andi merubah jalur musiknya ke jalur yang lebih matang lagi setelah berkolaborasi dengan bang Harry Sabar dialbum “Nuansa Biru”.
Berkat “kejelian” mas Harry Sabar akan potensi dan keunikan suara dari mba Andi Meriem Mattalatta ini, akhirnya Bang Harry Sabar berhasil membuat “Image” baru untuk Diva Pop ini selepas dari Musica Studio.
Bagi pengamat lagu lagu mba Andi pasti setuju kalo album keluaran tahun 1986 yang diberi judul “Nuansa Biru” yang seluruh lagunya dibuat oleh Mas Harry Sabar ini sangat merubah “Image” bermusik dari seorang Andi Meriem Mattalatta yang terlanjur dikenal dengan lagu berjenis Pop yang cenderung cengeng.
Perubahan musiknya ini tentu saja karena peranan musik dari musisi pendukungnya juga.
Kali ini musisi pendukungnya tidak tanggung tanggung, bukan hanya musisi lokal seperti Harry Sabar dan Johan Sanjaya selaku Music Director tapi beberapa musisi dari luar negeri pun ikut menyumbang kabisa di album ini antara lain: Dave Koz, Bil Severance, Jonathan Merrill, Ken Navarro dan masih banyak lagi.



Belum Lagi album ini direkam bukan di dalam negri, melainkan di beberapa studio rekaman berbeda di Hollywood, California.

L u a r B i a s a !!!
Jadi pasti sangat terasa selakali perbedaan musik mba Andi pada saat di Musica dengan album keluaran Oceana Record International & Billboard Indonesia ini.
Jadi siapa sangka kalo Dave Koz yang begitu tenar di era sekarang ini dulunya hanya lah seorang musisi pengiring album artis Indonesia.
Hebat ga tuh Mba Andi ??
Hebat ga tuh Musik Indonesia ??
Bravo Musik Indo… Bravo Classic Indo…

Thursday, July 20, 2006

Money Talks

What Money can’t buy??

Hmmm… that could be various answers.
Lets say : “Love”…
Love?? Oh Really? But, I don’t thing so..
Many people fallin’ in love only because of “money”.
Hmmm...What about “Dignity”? , What about “Idiology”?
Hmmm that’s depend…

Ok then… I`ll give you an example…

Kalo kalian perhatikan apa sih yang kurang dari performance putri dari Emilia Contessa yang bernama lengkap: “Denada Elisabeth Anggia Ayu Tambunan” ini?
Berkat perfomance nya yang gemilang, diusianya yang baru aja 16 tahun pada saat itu, dia berhasil menyabet salah satu penghargaan dari kategori bergengsi di MTV Asia Award tahun 1995.



Selain itu juga, dia berhasil mendapatkan kontrak untuk sebuah produk Minuman bergengsi dunia : “Coca Cola” Company Indonesia, senilai kurang lebih setengah miliar rupiah untuk mewakili “image” generasi muda pada saat itu. Belum lagi iklan iklan produk lainnya yang menuntut sebuah image anak muda kreatif dan berbakat pada masa itu.
Jadi jelaslah sudah pilihan MTV Asia, D&G, Casio Baby G-Shock dan Coca Cola adalah mencari image artis yang bergengsi, berkelas, berprestasi dan memiliki jenis musik dari kategori tertentu yang bergengsi pula dan tentunya bukanlah untuk artis berkategori musik dan performance yang tidak satu “image” dengan produknya.
Tapi Lihatlah perjalanan waktu dan perjalanan karir Denada setelah kurun waktu 10 tahun kemudian.
Apakah dia masih bisa bertahan dengan “image” dan penampilan yang masih sama dengan pada saat itu?
Meskipun dia adalah “the breakthrough” untuk kategori musik rap dan RnB wanita di Indonesia tapi ternyata dia tidak bisa survive dan terus berjaya dijalur ini.
Selain ketatnya persaingan perindustrian musik di Indonesia dan banyaknya kemunculan generasi muda yang memiliki bakat bakat lebih “fresh” dan mengikuti trend yang ada pada saat itu juga menjadi faktor hilangnya pamor “sang pelopor” aliran musik rap dan RnB wanita di Indonesia ini.



Pergeseran musik Denada dari album ke satu dan kedua tidaklah begitu kentara, dia tetap setia dengan lagu berjenis ini dengan bantuan mas Harry Budiman, Johandi Yahya (Cool Color), Bobby Alatas (putra dari Titik sandora & Muchsin Alatas) dan masih bayak lagi musisi yang membantu Denada di Album pertama dan kedua ini, walaupun sesekali dia juga unjuk kebolehannya untuk mencipta lagu sendiri dan bernyanyi secara biasa (tidak secara rap) di beberapa yang lagunya yang ternyata jauh lebih indah dan lebih “easy listening” dengan balutan musik bertempo “melow” dan “up-tempo” yang cenderung RnB bangedz…
Coba saja simak lagu “Ketika Cinta Telah Bicara” di album ke-2 Denada ini, ini adalah lagu Denada yang paling saya unggulkan, karena pada saat itu masih jarang ada yang menyajikan musik seperti ini dan Denada memang yang mengawalinya, biasanya musik seperti ini hanya bisa saya dengar di musiknya Shanice, Tracie Spencer, Mary J Blidge, Brandy atau Toni Braxton saja, tapi kali ini Indonesia punya juga vokalis wanita dengang jenis musik seperti ini.



Ternyata akhirnya wanita kelahirah tahun 1978 yang selalu ber-ulang taun setiap tanggal 19 Desember ini, menyadari akan kelebihan dia untuk bernyanyi (tidak secara rap) ternyata juga bisa lebih menghasilkan hits dari pada lagu lagu nge-rap-nya, karena anehnya memang begitulah faktanya, lagu lagu Denada yang menjadi hits ternyata bukanlah lagu dari kategori rap melainkan lagu lagu yang dia nyanyikan tidak secara Rap, maka dia merubah konsep bernyanyinya di album ketiganya dan kali ini Denada dikawal oleh Sony Music sebagai recording company-nya.
Sesuai dengan judul album ketiganya ini : “ Awal Baru”, kali ini musik Denada benar benar baru dengan musisi pendukung barunya pun mulai bertambah namun kali ini tanpa kehadiran Bobby Alatas dan Johandi Yahya.
Walaupun Denada tetap setia dari album pertama sampai ketiga bersama Harry Budiman tapi demi “Awal Baru” ini akhirnya Denada mulai mengundang banyak musisi handal untuk berkolaborasi seperti Dhani Ahmad dan Yovie Widianto.
Kebalikan dari album album terdahulunya, dialbum ke-3 ini Denada hanya menyisipkan satu buah lagu yang bernuansa rap, selebihnya lebih ke RnB dan Dance.
Tampaknya ini adalah klimaks dari karier Denada untuk jenis musik yang melambungkan namanya itu.
Setelah itu tampaknya Denada lebih asik dengan kesibukan barunya sebagai presenter, pesinetron dan kemudian beralih profesi sebagai penyanyi dangdut.


Hmmm... See… That's what Money can do!

Money can turn someone to be what it takes.
Sekarang Denada lebih memilih jalur musik dan karir yang bisa lebih menghasilkan rupiah dan lebih menjanjikan dibanding ketika dia hanya menjadi seorang penyanyi rap.
Bahkan salah satu televisi swasta pun sempat menominasikan dia sebagai salah satu nominasi untuk penyanyi dangdut terfavorit pilihan pemirsa, padahal ketika itu Denada belum satupun menghasikan album dari kategori musik jenis dangdut, hanya lantaran karna frekuensi dia tampil di televisi lebih banyak diminta menyanyikan lagu dangdut, akhirnya image itupun kadung melekat pada Denada.
Barulah setelah itu dia akhirnya mengukuhkan diri sebagai penyanyi dangdut secara profesional dengan album dangdut terbarunya itu…

Selamat deh…

Semoga cepet dapet apa yang kamu kejar…

Ngomong ngomong.. apa Coca Cola masih mau ngontrak penyanyi dangdut ga yah?? sebagai image iklannya??

Mungkin cukup "Marimas" saja kali yah?? itung itung jadi gantinya Inul...


Ayo ngebor... maasssss....


Friday, July 07, 2006

Why Try Harder

I'm #1 So Why Try Harder



Buat Para pecinta Fatboy Slim di Indonesia (yup.. bener banget hanya yang di Indonesia) pasti akan sangat Girang sekali nemuin album kompilasi hits FBS dari sejak album pertama sampai album terakhir 2004 lalu, secara di Indonesia album pertama Fatboy Slim: “ Better Living Through Chemistry ” sangat susah bangat didapat disini. Jadi buat yang tingal di luar negri paling beli album ini cuman karena 2 single terbarunya aja. Termasuk juga saya yang langsung panas dingin liat cover dan list lagu lagu di album ini, Secara… “Fatboy Slim is in my Blood” banget, gitu loh…
Belum lagi disitu ada single: “ Sho Nuff ”, “Everybody Love A Carnival” yang memang ga keluar disini dan ada juga single dari Cornershop : “Brimful of Asha” yang aku memang belum punya original CD nya, karna maklum kalo CD bajakannya lebih mudah didapat dari pada cari CD original, yang walaupun seribu kali balikan, keluar masuk Toko CD pun tetep ga ada yang jual!! “Kampring” ga sih toko CD disini?? Itulah kelebihan dari pedagang kaki lima, mereka lebih komplit koleksi lagu impornya dibanding toko CD! Jadi siapa yang salah? Hidup Kaki Lima!!
Walaupun Album mereka memang tidak banyak tapi sayangnya entah kenapa susah didapat disini, mungkin karena kebanyakan Hits mereka adalah berbentuk CD single jadi susah banget didapat disini, mengingat disini kebanyakan toko Cd tidak jualan CD single. What a pity...
Sampe sekarang saja aku masih cari banget album perdana mereka yang ada single judulnya : “ Michael Jackson” tapi belum ketemu juga. Belum lagi single Mereka bareng Eve, Pink, Prodigy, Chemical Brother dan banyak lagi yang entah kapan aku bisa Temuin disini.
Wuih…

Selain itu ada satu lagi yang menarik dari Cover CD Fatboy Slim kali ini.
Kalo kamu masih inget Album ke 3 dari Fatboy Slim: “ You’ve Come A Long Way, Baby “ ditaun ’98 lalu, kamu pasti bisa nebak kemana maksud dari cover album terbaru FBS ini.
Cover dari kedua album tersebut sebenarnya sama, hanya saja ada sedikit modifikasi dicover album terakhir FBS yang baru ini.
Ada 2 perbedaan jelas yang sepertinya ingin sekali ditegaskan. Karna Kalo tidak ada maksudnya, kenapa harus memilih cover yang sama didua album yang berbeda? Hayo…?
Hehehe… Ternyata mereka punya keahlian baru! Selain jago me-remix lagu, ternyata Fatboy Slim juga jago me-remix cover album!
Perhatikan 2 perbedaan besar dari kedua cover album tersebut, disitu sama sama ada gambar cowok chubby memakai T-Shirt coklat bertuliskan : I’m #1 So Why Try Harder.
Kata kata itu terasa sangat “menohok” banget ketika kita bandingkan waktu melihat cover dialbum terakhir mereka ini. Kalimat I'm #1 So Why Try Harder dari T-shirt itu kali ini dijadikan tagline album baru mereka ini dan Sepertinya kata kata “Why Try Harder” di perjelas sekali dibagian bawah dengan pita keemasan yang pastilah ditujukan pada rival mereka yang terutama adalah: Groove Armada, Chemical Brother dan Prodigy yang secara memang mereka adalah pelopor jenis musik seperti ini dan mereka pun lebih dulu membuat album the best dari aliran musik berjenis seperti ini,hanya saja FBS punya kelebihan musik yang flexible dan lebih easy listening yang membuat FBS lebih popular.
Background gambar hiruk pikuk kota dan gedung gedung tinggi dirubah menjadi gumpalan awan dan si cowok chubby itu kali ini sudah memiliki sayap dan terlihaat seperti sedang berjalan diatas awan, sepertinya mem-visualisasikan kalo mereka memang #1 dan selalu diatas awan.. “So Why Try Harder”
Wuih.. Sungguh visualisasi yang sangat dalem menurut aku sih.




Namun ada yang mengganjal sepertinya menurut aku penggunaan kata kata “The Greatest Hits” sangat lah kurang kreatif, itu cuman kata lain untuk “The Best” padahal cover album Fatboy kali ini menurutku sudah sangat meaningful dan kreatif banget tapi ternoda oleh kalimat murahan: “The Greatest Hits” itu!
Lihat saja kedua rival Fatboy ini memilih kalimat yang lebih kreatif untuk album kumpulan Hits mereka.
Misalnya saja Prodigy yang memberi judul album kumpulan hits mereka dengan judul “ Their Law: The Singles 1995 -2005” yang versi luar negeri sana dibuat versi double CD dengan jumlah singlenya mencapai 31 track, tapi sayangnya yang di jual di Indonesia hanya satu CD saja! Kasian deh..
Kemudia Chemical Brother yang juga punya: “ Single From 1993-2003”
Nah seharusnya FBS bisa lebih “nohok” lagi dong, dari pada cuman pake kalimat “The Greatest Hits!” yang biasa banget itu!

In Memoriam

Till We Meet Again

Gosh… It`s been 3 months since my last blog! dan aku takut account-ku di web ini diapus lagi! Kan ga bisa nyela nyela lagi… He.. he.. he.. Emang agak males lagi nih ngisi blog ini gara gara internet connectionnya udah limited banget disini. Cuman saking kangennya aku sama “si Bule” dan biar bisa aku pandangin terus fotonya jadinya aku masukin aja fotonya disini.



Semenjak pindah ke rumah yang sekarang ini aku tempatin, baru kali ini ada kucing yang beranak pinak dan besar disini. Karna biasanya kucingku disini biasanya rata rata jantan. Sejak kecil aku terbiasa punya piaraan dan kucing adalah yang paling lama setelah burung, kelinci dan ikan. Jumlah kucing yang aku punya bisa sekaligus 20 ekor. Rumah lamaku lumayan punya halaman belakang yang besar jadi jumlah sebanyak itu tidaklah terlalu merepotkan. Namun setelah bapakku meninggal, kita terpaksa harus ninggalin rumah itu dan pindah ke rumah yang tidak sebesar rumah kita yang dulu. Makanya aku tidak bisa lagi punya banyak kucing seperti dulu. Paling banyak sekarang aku hanya bisa nampung sekitar 7 ekor saja.




Kucing terlama dirumahku yang sekarang adalah “si Macho”, aku rasa dia turunan kucing import tapi aku gak tau jenisnya apa, “secara” bulunya memang agak panjang tapi ekornya agak pendek, jadi gak mungkin turunan Angora kan?
Nah dari “si Macho” inilah muncul kucing kucing lain turunannya langsung.



Aku masih inget banget kapan pertama kali anak anak “si Macho” ini lahir dan ngeong ngeong dari kamar kosong sebelah kamarku.
Aku seneng banget, aku langsung aku cari di semua sudut kamar tapi ternyata “si Yelli” (induk anak anak kucing baru ini) udah punya tempat strategis sendiri buat ngelahirin, yaitu di dalem lemari pakaianku yang emang udah lama ga dipake. Jumlah anaknya ada 4ekor, dua betina warnanya persis sama dengan “si Macho” dan yang dua lagi jantan, anak kucing jantan yang satu warna kuning Garfield dengan tone yang langka dan warna kuningnya pun lebih gelap dari warna kucing berjenis warna ini, dia aku kasi nama “Brownies” dan yang terakhir warna nya pun cukup aneh. Warna dominannya adalah putih tapi ada spot kuning pudar didaerah kepala dan punggungnya, karna warna kuningnya pudar jadi aku panggil dia “si Bule”. Sejak awal yang paling aku suka memang sama “si Brownies” ini, karena warna dan tone nya memang agak agak langka. Aku bener bener manjain dia. Tapi ternyata kucing punya sifat bawaan masing masing yang berbeda dan dia termasuk yang tidak manja dan cenderung sangat cuek dibanding yang sibling-nya yang lain.



Sifat kucing yang selain pemalas adalah arogan, terutama untuk kucing jantan. Biasanya disatu rumah sukar sekali untuk mempunyai lebih dari satu ekor kucing jantan, kecuali kalo kamu punya kandang pastinya tidak ada masalah.
Anak anak kucing biasanya cepat sekali akrab dengan anak anak kucing lainnya meskipun itu kucing pendatang. Tetapi untuk kucing dewasa butuh waktu sekitar satu minggu atau lebih untuk bisa saling akrab antara kucing baru dan kucing yang sudah ada.



Karena dirumahku tidak pernah menggunakan kandang, dan akupun lebih senang melihat kucingku bebas pergi kemana dia suka dan kembali kapan saja dia mau, kadang cukup bisa bikin aku memahami karakter setiap kucing yang aku punya.
Misalnya saja si Macho yang sering banget ngeloyor keluar rumah dan pulang hanya untuk makan pagi dan sore trus hobby banget kawin dan berantem, kadang banyak sekali luka di kepala atau ditempat lainnya kalo dia pulang, dan banyak sekali keturunannya dimana mana disekitar daerah rumahku, karna aku bisa lihat dari hasil turunannya, biasanya berwarna seperti dia dan cenderung berbulu bagus. Lain lagi dengan “si Brownies dan si Bule”, kedua kucing jantan ini paling aktif dan lincah banget dan selalu terlihat seru banget kalo lagi main bola atau sekedar kejar kejaran di dalem rumah. Tapi pemandangan seperti itu cuman berlangsung sekitar 5 bulan saja. Setelah itu mereka jadi sama sama dingin dan cenderung seperti jadi musuh, dan puncaknya salah satu dari mereka akhirnya harus terpaksa keluar untuk tidak saling mengganggu daerah territory masing masing. Inilah yang bikin aku sedih banget. “Brownies” akhirnya memilih keluar dari rumahku dan dia cari tempat sendiri. Kadang aku worried kalo dia bisa makan ga yah diluar sana?? Ada orang yang kasih dia makan ga yah?? Yah.. begitulah resiko kalo punya lebih dari satu kucing jantan dirumah kalo tanpa pake kandang.



Sesekali aku suka lihat Brownies lewat depan rumahku dan aku juga lihat ternyata dia sudah punya majikan baru di depan rumahku.
Syukurlah… aku seneng banget ternyata kucing kesayanganku sudah ada yang ngurus dan kasih makan. Kadang kalo dia lewat depan rumah aku suka panggil panggil dia walaupun dia sudah tidak mau lagi masuk ke rumahku aku suka gendong juga untuk masuk dan aku mandiin dia sekedar ngelepas kangenku ama dia, walaupun setelah mandi dan makan dia tetep pergi lagi ke rumah tetangga depan rumah tapi aku seneng bisa gendong dia lagi. Kita pindah cerita dulu untuk sedikit cerita tentang “si Bule”… Lain dengan “si Brownies”, sifat “si Bule” lebih mirip kucing betina, dia tipe penurut dan rumahan, dia setia banget dirumah, walaupun keluar rumah dia tidak pernah lama dan tidak pernah jauh. Setelah “Brownies” pergi, aku baru sadar kalo aku hanya punya satu kucing yang paling setia temenin aku yaitu “si Bule”, dia seperti kucing tunggal dirumahku, karena Yelli pun pergi entah kemana setelah semua anaknya tidak lagi menyusu lagi, dan kedua sibling “si Bule” pun sudah tidak tinggal dirumahku lagi karena ada tetangga yang minta.


Sebenernya tipe kucing seperti ini yang paling aku mau, diam dirumah, manja dan smart dan “Si Bule” sudah pas banget buat aku.
Kadang kalo pintu kamarku ditutup, dan dia tidak boleh masuk, dia cuman nunggu aja dikaca nako sambil tetep liatin aku dikamar yang lagi makan atau ganti baju. “Si Bule” emang temen aku kalo aku lagi makan, kadang makananku selalu sisain buat dia dan kadang dia cuman nunggu dipangkuanku atau sesekali ngeong sambil manjangin lehernya pengen liat isi piring yang aku pegang. Yah.. begitulah kebiasaannya si Bule kalo denger ada orang makan pasti digangguin, tapi aku sih happy banget karna jadi ada yang nungguin. Balik lagi ke si Brownies… dan disinilah cerita sedih ini dimulai.. Beberapa hari sebelumnya aku selalu tanya sama si Mommy apa dia suka liat “Si Brownies” lewat depan rumah ga? Karena aku tiba tiba kangen banget pengen liat dia setelah lebih dari 3 bulan kebelakang aku ga lagi liat dia. Mommy ku jawab: “ Ada sih.., kadang kadang dia lewat, Tapi kalo dipanggil susah banget ” aku langsung seneng karna kali aja dia weekend ini lewat lagi, so aku bisa panggil dan mandiin, karna kalo diluar weekend aku kan ga pernah ada di rumah karena kerja. Selang beberapa hari setelah pertanyaanku tentang “si Brownies” sama mommy-ku, sepulang aku kerja tiba tiba kakakku teriak dari luar rumah manggil manggil aku untuk keluar dan melihat siapa yang ada di pintu gerbang.



Aku seneng banget campur kaget juga karena sore itu si Brownies tanpa susah payah dipanggil dia langsung masuk rumah dan menuju toilet yang memang tempat favorit dia buat B.A.B! FYI: cuman “si Brownies” lah satu satunya kucingku yang biasa masuk toilet buat BAB! Tapi kali ini kayaknya dia kesitu bukan untuk BAB, tapi karena seluruh badanya penuh Lumpur hitam dan baunya bukan main! Sepertinya dia habis nyempling parit dan minta tolong aku untuk mandiin dia.
Itulah yang bikin aku kaget, kenapa badannya sekotor itu, dan jalanya sempoyongan dan susah payah menuju toilet. Sore itu juga aku langsung mandiin dia. Pada saat aku mandiin dia seperti biasa kucing memang suka agak takut kena air dan agak panic denger suara air, dia meronta ronta tapi sepertinya dia sedang sakit karena tenaganya tidak terlalu kuat saat meronta dan suaranya pun agak parau dan badannya kuruuus sekali. Aku mulai berpikir pasti dia sudah diusir dari rumah majikannya yang sekarang dan balik lagi ke rumahku. Tapi ternyata bukan itu setelah dia bersih dan aku coba beri dia makanan tetapi dia tidak sedikitpun menyentuh makanannya padahal aku khawatir sekali dia pasti akan tambah parah sakitnya kalo dia tidak makan. Tapi setelah bersih dia tetep ngotot untuk pergi, aku biarkan dia pergi, yang penting aku dah nolong dia ilangin kotoran di badannya seperti yang dia mau. Tapi keesokan harinya dia kembali dangan keadaan yang makin parah dan semakin kurus. Tapi begitu aku beri makan dia tetep tidak mau. Akhirnya aku hanya bisa memberi dia susu dan air putih dengan menggunakan ‘pipet’ tapi semua itu sudah terlambat karena dia tidak bisa nelan semua itu. Akhirnya dia cuman berbaring dengan nafas yang tipis banget dari situ aku udah bisa prediksi kalo Brownies ga akan bertahan ampe besok. Aku sempet ngomongin ini sama Ade pas aku bangun tidur.. “Dek kayaknya Brownies mati deh”… “Hah??” si ade jawab. “Abang tau dari mana??” Aku ga jawab tapi aku langsung keluar kamar dan pas diluar kamar Mommy-ku bilang: “No.. si Brownies mati..” Aku gak terlalu kaget karena aku memeng udah liat keadaan dia tadi malem emang parah banget. Dari kejadian itu aku cuman bisa nyimpulin kalo kucing juga bisa tau kalo kita itu sayang banget sama dia, walaupun aku ga pernah bisa deket dengan “si brownies” seperti aku deket dengan “si Bule” tapi dia bisa ngerasain kalo aku saying dia, dia lebih milih mati di rumahku ketimbang mati ditempat lain. Walaupun sebelumnya dia lebih milih untuk ninggalin rumah dan punya territory sendiri tanpa terganggu oleh kucing lainnya dari pada tinggal dirumahku yang mesti sharing dengan kucing lainnya. Setelah kejadian itu aku makin saying banget sama “si Bule” karena cuman dia yang mau stay dirumah. Tapi seminggu setelah “si Brownies” mati tiba tiba “si Bule mogok makan, aku ga curiga dia sakit, aku hanya pikir dia pingin ganti menu makanannya saja. Jadi aku tidak begitu khawatir dan tinggal cari aja makanan lain di meja makan dan makanan beku dia dikulkas dikasih buat kucing yang lain saja. Tapi setelah aku rubah sama menu lain ternyata dia tetep ga mau makan dan cuman tiduran aja padahal dia paling suka banget ati ayam tapi malem itu dia ga nyentuh sama sekali makanan itu. Akhirnya aku suapin susu sedikit dan dia pun mau. Cuman tiba tiba saja besoknya dia hilang dan ngga pulang sampe 2 hari. Mommy ku bilang “kucing kalo sakit biasanya suka gitu, keluar cari obatnya sendiri ntar balik juga dah sembuh.” Aku percaya aja sambil tetep aja cemas karena ngilang kayak gini bukan kebiasaannya “si Bule”. Akhirnya di hari ke tiga pagi pagi bener aku udah nyari dia di depan rumah. Ternyata dia ada dihalaman depat dengan keadan persis seperti yang Brownies alamin waktu datang dalam keadaan sakit. Napasnya udah susah dan mulutnya keluar cairan yang aku ga jelas apa. Kakakku bilang mungkin kucingku diracun atau tanpa sengaja makan racun, karna didaerah belakang rumahku banyak sekali tikus yang diracun pake portas, mungkin saja kucing itu makan unpan buat tikus atau makan tikus yang udah diracun! Aku langsung lemes dan pengen nangis rasanya, andai saja si Bule ga ngilang selama 2 hari, aku pasti masih bisa bikin dia sembuh dan tidak seperti pagi itu yang sudah terkapar parah dan ga bisa bergerak. Akhirnya pagi itu “si Bule” mati. Dia mati setelah aku beri minum, dan kali ini aku menyaksikan secara langsung gimana dia mati. Siapa yang ga sedih ditinggal best buddy ever seperti “si Bule” ini. Bule mati sehari sebelum dia berumur tepat 9 bulan dia mati 21 september lalu. Yup, bener banget, mereka lahir pas hari ibu 2005 lalu. “Tompel”… even kamu ga lahir dirumahku tapi thanks banget dah bikin aku happy kalo kamu ada dirumah. Kamu emang seneng banget keluyuran but it`s OK! So long buddy… Buat “Buntel”, aku seneng kamu dah sembuh… aku maklum kalo ada yang nyulik kamu… kamu emang lucu, aku cuman bisa berdoa kamu dapet majikan yang sayang ama kamu. Good bye pals… Till we meet again. I love you all.. Dan hari ini aku kangen banget ama kalian… Tulisan ini buat mengenang kalian.



coba kalian masih idup aku kenalin sama temen temen baru kalian aku kedatangan “Piggo” beberapa hari setelah “Si Bule” mati, Piggo kayaknya sengaja "dikasih" buat aku untuk gantiin “Bule”




Dia cerdas dan manja, persis kayak “Bule” dia bermata oriental dan punya hidung yang gede dan seperti babi.. jadi aku panggil dia “Piggo”.




Dan yang terakhir adalah si charming "Bego", dia sepertinya turunan persia, dengan bulu tebal dan lembutnya dan kelakuannya yangs sedikit tengil dan jail banget bikin semua orang ketawa liat dia.
Tapi karna dia bego, yah... semua orang akhirnya panggil dia "Bego" tapi dia tidak bego kalo untuk urusan maen bola. Dia itu jago nya maen bola!


Thursday, July 06, 2006

Uthe "Ceraikan" Erwin?? (Daur Ulang)

Uthe akan “Ceraikan” Erwin?





Tidak terasa dua tahun sudah single apik “Andai Kau Datang” milik Uthe ini berkumandang, namun gaungnya masih begitu membekas dan seperti baru saja kemarin lagu ini menjadi hit kembali dan memberi kesan tersendiri dibandingkan dengan versi aslinya.
Lagu yang diambil dari album bang Erwin Gutawa, ‘Salute to Koes Plus (Bersaudara)’ ini memang mempunyai aransemen yang begitu “megah” dan sangat mempunyai kekuatan emosional yang luar biasa sekali berkat olah vokal Uthe.
Tipikal lagu seperti ini lah yang biasanya aku suka. Lagu lagu yang beraransemen megah dan memiliki “Climax”!
Biasanya lagu lagu dari Uthe, Whitney dan Celine umumnya punya emosi dan Climax yang bagus sekali.
Tidaklah gampang untuk menghasilkan lagu dengan Climax yang baik, sebab selain faktor aransemen-nya, penjiwaan, serta olah vokal yang mantap juga jadi faktor pentingnya.
Kadang untuk lagu lagu remake sangat sulit sekali untuk mencapai climax itu karena umumnya orang akan membandingkan dengan versi lamanya.
Jadi itulah kesulitan dan resiko untuk mempopulerkan lagu daur ulang.




Seperti halnya di album ke sebelas Uthe kali ini, Uthe menyisipkan 3 buah lagu daur ulang dari dekade yang berbeda-beda.
Jadi lumayan beban juga kayaknya bawainnya mengingat salah satu dari 3 lagu itu adalah lagu milik penyanyi malaysia Aisah Arifin yang juga mantan vokalis group Fans Club asal Australia yang suaranya sudah mendunia itu.
Selain lagu Aisah, Uthe pun melagukan kembali tembang yang diambil dari koleksi lagu dekade 70-an.
Kali ini giliran lagu milik A. Riyanto yang dipilih Uthe yang dulu ngetop dibawakan Teti Kadi.
Dari segi aransemen lagu remake yang berjudul “Layu Sebelum Berkembang” ini sudah mempunyai aransemen yang bagus.
Lagu ini di aransemen oleh Dian AGP atau yang sekarang sudah berganti nama menjadi Dian HP setelah tidak lagi menjadi istri dari seseorang yang berinisial belakang AGP juga. Kok jadi Infotainment gini yah??
Hanya saja menurut aku lagu ini belum mempunyai climax yang cukup emosional, padahal Uthe adalah jagonya kalo soal lagu seperti ini tapi sayangnya entah kenapa sepertimya penambahan electric gitar disitu sepertinya kurang cocok dan agak terasa mengganggu mengingat ini adalah lagu melow dan harusnya lebih menonjolkan kekuatan vokal bukan menonjolkan kekuatan sebuah instrumen, mungkin akan lebih indah kalo electric gitar itu bisa digantikan oleh string atau sax mungkin akan lebih terasa melow nya.
Tapi intinya di lagu ini vokal Uthe belum dikuras secara maksimal padahal lagu ini mempunyai range nada yang sangat lebar dan sangat cocok untuk range vokal Uthe yang lebar juga, tapi sayangnya di nada tinggi nya hanya diisi oleh suara dari hasil tehnik falseto dan tidak ada upaaya pengulangan refrain untuk mencapai climaxnya.
Huh… andai saja aku yang jadi vokal arranger-nya … Mimpi kali yeee…
Tapi mengkritik memang gampang… Hehehe
Ampun mba Uthe…




Ini adalah album kedua Uthe bersama Sony BMG, dan ini adalah kali pertamanya Uthe membuat album tanpa campur tangan bang Erwin Gutawa.
Apakah Uthe akan “menceraikan” bang Erwin?
Semoga tidak…
Karena aku masih selalu berharap Uthe bisa kembali membuat album sehebat album 1 sampe 4 Uthe yang terdahulu. Karena memang itulah karya Uthe terbaik dan album album itu sangat kental sekali unsur musik original Uthe dan bang Erwin.
Walaupun nama bang Erwin tetap ada dialbum ini tetapi itu hanya sebagai aranger dilagu daur ulang dari theme song 3 Diva : "Semua Jadi satu", yang dibuat Sony bersama Warner dan Aquarius sengaja disisipkansepertinya untuk menggenapkaan List Album yang diberi judul “Jiwaku” ini.
Kali ini sama sekali tidak ada lagu ciptaan bang Erwin ataupun aransemen beliau yang dibuat khusus untuk album ini.
Andai saja aku ini wartawan infotainment… aku sudah “buru” mba Uthe dan “tanya kenapa?”
Tapi disisi lain aku berharap album ini akan dibuat Re-package.
Dan dialbum Re-package-nya nanti Uthe dan bang Erwin harus rujuk kembali dan harus membuat lagu Remake “Cinta” milik Melly dan dinyanyikan duet bersama Titi DJ. Karena setelah melihat konser 3 Diva kemaren, lagu itu jauh lebih indah dan harmonisasi vokalnya pun jauh lebih indah dibawakan Uthe dan Titi.
Semoga….
Dan satu lagi... Semoga Mba Uthe juga mau berduet dengan a lifetime true friend-nya : "Lita Zen". Karna aku juga suka banget dia. Pasti hasilnya akan keren banget karena keunikan dan karakter suara mereka yang hampir mirip pasti akan indah banget hasilnya.
Heheheh... Mimpi kali yee....?

Friday, June 23, 2006

World AIDS Day


Stigma pemicu paranoid?

Gak terasa dua hari lagi kita masuk dibulan terakhir tahun 2006 ini.

Seperti biasa setiap tanggal satu dibulan ini seluruh dunia memperingati hari ini sebagai World AIDS Day, sejak 1988 lalu.

Lalu ‘Hal’ apakah yang terlintas dibenak anda ketika anda menbaca atau mendengar tentang HIV/AIDS ini?

Apakah terlintas juga dibenak anda bahwa orang lain bisa ber-‘asumsi’ lebih buruk lagi tentang HIV/AIDS dari apa yang ‘baru saja’ anda asumsikan tadi?

Sempatkah kah terpikir oleh anda bahwa ‘asumsi’ yang salah dan kurangnya pengetahuan yang benar tentang HIV/AIDS, bisa memperburuk ‘stigma’ yang telah ada dimasyarakat dan menimbulkan paranoid yang berkepanjangan akibat ketidaktahuan/kurangnya pengetahuan/tidak adanya penyuluhan/tabu dan masih banyak lagi faktor faktor pemicu paranoid terhadap virus ang belum ada obatnya ini.

Mungkin itulah kendala terbesar dalam mensosialisasikan HIV/AIDS di masyarakat kita, bahkan penderitanya sendiripun sering kali tidak tertolong lagi dikarenakan tidak tau harus kemana dia berkonsultasi dan berobat dikarenakan takut akan apa yang akan dia hadapi jika masyarakat disekitarnya mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi HIV/AIDS.

Tapi tidak hanya kalangan awam saja yang patut dipersalahkan, kadang diagnosa seorang dokter pun bisa kurang tepat, seperti yang pernah saya dengar dari seorang “keynote” disebuah seminar mengenai HIV/AIDS beberapa waktu yang lalu, beliau bercerita tentang seseorang yang didiagnosa terinfeksi oleh penyakit menular seksual (PMS) yang cukup parah sampai sampai dia tidak bisa merasakan sesuatu lagi dengan lidahnya dan pada lidahnya pun telah banyak ditumbuhi oleh jamur. Rupanya sang dokter hanya memberikan pengobatan yang untuk penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) saja tanpa mencurigai kalo pasiennya tersebut telah juga telah terinfeksi oleh HIV dan akhirnya pasien tersebut terlambat ditangani karena ternyata dia sudah mengidap AIDS dan akhirnya tidak tertolong lagi.

Menyedihkan bukan? Seharusnya seharusnya seorang dokter bisa membantu proses penyembuhan seorang pasien tetapi karena ketidakakuratan penanganan IMS akhirnya bisa menjadi fatal.

Lalu apakah pernah terpikir oleh anda bahwa setiap orang bisa saja terinfeksi virus ini? Lalu seberapa potensialnya kita bisa terinfeksi virus ini?

Umumnya kita hanya beranggapan bahwa HIV menular dari hubungan seksual yang beresiko dan tidak aman (berganti ganti pasangan tanpa memakai kondom), anal sex, pengguna narkoba suntik yang bergantian dan tidak steril dll.

Tapi apakahkah kita pernah berpikir kalo tempat yang seharusnya aman dari virus ini malah bisa menjadi tempat berpindahnya Virus ini tanpa melalui proses hubungan intim ataupun jarum suntik?

Contohnya saja seorang penderita HIV berkunjung pada klinik gigi dan karena proses sterilisasi di klinik itu tidak baik maka virus pun bisa berpindah ke pasien yang lain melalui luka di mulut yang ada pada alat yang tidak steril.

Belum lagi transfusi darah di rumah sakit. Meskipun Setiap darah yang masuk ke PMI selalu melalui proses screening terlebih dahulu untuk memastikan bebas HIV, namun virus HIV tidak bisa hanya malui sekali proses screening saja.

Karna antibody dari virus ini baru bisa terdeteksi setelah minimal 6 bulan dari semenjak orang itu terinfeksi.

Jadi walaupun seseorang melakukan tes HIV dan ternyata hasil tes itu negative, belum tentu hasil itu benar benar negative sebelum dia melalui “window period”, yaitu masa dimana antibody HIV/AIDS bisa ditemukan dalam tubuh seseorang yang bisam memakan waktu minimum 6 bulan.

Jadi kegagalan proses screening darah di PMI sangatlah besar.

Karena hasil negative itu masih semu.

Buat kalian yang telah melakukan test sebaiknya mengulang test tersebut setelah minimal 6 bulan, dan selama 6 bulan berjalan itu usahakan untuk tetap stay safe.

Bukan maksud menggurui atau apapun, tulisan ini jauh sekali dari apa yang sebenarnya saa dapat dari semua teman teman yang telah banyak memberikan informasi dan seminar seminar ang bermanfaat.

Ada baiknya anda mencoba untuk mencari informasi lebih, karena itu yang saya harapkan demi tercapainya sosialisasi yang baik mengenai HIV/AIDS dan menghapus stigma buruk nya.

Love you.. Stay safe

FYI :

Dalam 6 bulan dari sekitar 300 orang sukarelawan untuk test HIV, 10 orang positive terinfeksi HIV.

Silahkan anda kalkulasi jika dari 10 orang tersebut melakukan sex aktif tanpa pengaman, masing masing melakukan 30 hubungan sex dengan pasangan baru dalam satu bulan, lalu berapa jumlah penderita HIV pada 6 bulan berikutnya?


A Hangar Report

My Guilty Pleasure





I should have prepared for the worst, but I never thought it will be that worse..

Basi memang… ‘Secara’… konser ini sudah berakhir gaungnya sejak Mei lalu,
tapi begitu ada kesempatan manggung di Bandung kenapa nggak dibikin lepas penasaran aja untuk sempetin nonton konser Anggun ini.
Sudah terbayang betapa akan tidak nyamannya menyaksikan konser seorang bintang kelas dunia di sebuah arena yang bukan pada tempat semestinya.
Entah apa yang menjadi pertimbangan dipilihnya Hangar Bandara Husein Sastranegara sebagai tempat konser Anggun di Bandung ini, walaupun Sabuga (salah satu tempat yang paling banyak digunakan untuk konser musik di Bandung) pada tanggal tersebut telah lebih dahulu “di-book” untuk sebuah acara besar juga, tapi tidak seharusnya Hangar tua nan kumuh dan jauh dipinggiran kota ini jadi pilihan, ‘Secara’… di Bandung ini masih banyak terdapat gedung lain atau Dome yang jauh lebih baik dan masih lebih layak digunakan ketimbang hangar.


Detik pertama sebelum memasuki memasuki gerbang hanggar ini, dari jauh sudah tampak seperti ada keriaan layaknya acara 17 Agustusan lengkap dengan grobak penjual bakso tahu, batagor, nasi goreng dan aneka makanan minuman kampoeng lainnya, yang lumayan menggangu dengan sampah2 plastik botol dan sebagainya bertebaran dimana mana. Sungguh jauh dari kesan fancy dan glamour yang seharusnya sudah menjadi trade mark seorang Anggun ataupun konser artis tingkat dunia.
Detik kedua setelah memasuki gerbang… sekali lagi diluar dugaan, ada suara teriakan kasar seseorang berseragam dari belakang : “Mau kemana, mas?” ,kita jawab “Mau Parkir!!”
Mereka bales jawab dengan ketus: “Ke sebelah sana tuh, Kalo gak tau Tanya ,dong!”
Kita tetep ngehormati mereka dengan bilang : Thank You… Mereka menjawab “ Bahasa mana tuh??” Sambil ngelor kearah yang mereka tunjukin aku ga brenti maki maki sendirian dengan keras dan keluarlah kata kata kojoku : AnJ#*G!! berkali kali dari mulutku.
Huih… What a great Concert..
Kalo saja mereka itu bukan para abdi Negara pastinya aku masih maklumi. Ternyata prilaku mereka ga jauh beda dengan preman pasar yang tidak berpendidikan. Cuman seragam saja yang yang membedakan mereka.


Tanpa harus melalui antrian panjang kita langsung saja lancar masuk menuju hangar.
Tidak ada dekorasi yang menarik mata sedikitpun dari mulai kita menyodorkan tiket menuju alley sampe ke dalam hangar, semuanya sangat biasa, hanya di balut kain parasit tebal yang serba hitam. Hanya ada giant screen yang memutar klip klip Anggun dan wawancaranya tanpa ada ornamen ornamen artistik yang menhias alley ataupun hangar.
Panggungnya pun hanya dihias 2 giant screen kiri kanan dan 1 giant screen ditengah saja, yang ditutupi 2 partisi berbertuk seperti jajaran genjang.
Sungguh sangat memprihatinkan, ternyata nama besar Jay belum bisa bikin saya terkesan dan tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya.
Seperti bumi dan langit jika saya bandingkan dengan dekorasi pada saat konser Vina bulan Febuary lalu.
Setelah menunggu lumayan lama.. akhirnya Anggun muncul tepat 30 menit telat dari yang terjadwal pukul 8 malam.
Kekecewaan saya cukup terobati setelah melihat dan mendengar secara live penampilan Anggun dan musikus bule yang Anggun bawa.
Aku berani bilang konser ini nyaris tidak ada cacat sedikitpun diluar yang saya paparkan diatas. Aku bener bener puas dengan musisinya terutama yang paling sangat menonjol adalah permainan Drum yang sangat sangat luar biasa. Meskipun jumlah musisinya ahnya terdiri dari 4 orang saja ( Drummer, bassis, Gitaris dan pemain keyboard tapi musik yang dihasilkan sungguh luar biasa. Kekurangan power dari sound system menjadi tidak terasa lagi dengan bantuan suara permainan drum yang sangat spekta. Biasanya yang paling mengganggu dari sebuah konser adalah kondisi Microphone yang kurang baik atau wireless yang kadang bermasalah tapi di konser ini tidak ada sama sekali, dan Anggun pun punya tehnik mic-ing yang sangat luar biasa. Pokoknya tidak ada cela sedikitpun tentang perfoma mereka.
10 jempol buat Anggun!!
Untuk wardrobe mungkin anggun agak sedikit 'Cheesy' malem itu, bahkan ada beberapa kostum yang dipakai ulang. Secara'..Kita biasa melihat anggun tampil dengan busana karya perancang perancang tingkat dunia yang sangat terkesan glamour, tapi melihat judul konser ini mungkin Anggun hanya memilih perancang dalam negeri saja.
Apalagi pada saat Anggun memakai celana pendek, ada baiknya menggunakan stocking untuk menutupi bagian yang tidak terawat… Oops..




Selain musisi asing Konser Untuk Negri ini dibagi 2 sesi dan 2 jenis musik yang cukup jauh berbeda.

Sesi kedua ini adalah sesi "Guilty Pleasure" saya!!
Dengan jenis musik yang semi keroncong tapi minus okulele ini, Andy Ayunir mengaransemen ulang lagu lagu Anggun sebelum go international yang tergabung digrup Saunine.
Terus terang aku lebih menikmati sesi ini, maklumlah aku hidup dijaman jahiliah itu, terutama lagu fave saya yang dinyanyikan paling awal : "Bayangan Ilusi"
Hahahaha...kebayang kan ilfilnya denger lagu lagu 'jadul' itu?
Tapi tetep bikin aku orgasme...!
Oops... "puas" maksudnya.